Hiii welcome to my blog! Haloooooo welcome to my blog! August 2024 ~ GRWM
A homepage subtitle here And an awesome description here!

Monday, August 12, 2024


Monday, August 5, 2024

Bunga bangkai raksasa

 


Bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum Becc.) adalah tumbuhan dari famili talas-talasan (Araceae) endemik dari Sumatra, Indonesia, yang dikenal sebagai tumbuhan dengan bunga majemuk terbesar di dunia, meskipun catatan menyebutkan bahwa kerabatnya, A. gigas (juga endemik dari Sumatra) dapat menghasilkan bunga setinggi 5 m.[2] Kibut disebut juga sebagai bunga bangkai, yang disebabkan oleh bunganya yang dapat mengeluarkan bau seperti bangkai yang membusuk. Hal ini bertujuan untuk mengundang kumbang dan lalat untuk menyerbuki bunganya.

Kibut sering dipertukarkan dengan padma raksasa atau Rafflesia arnoldii. Mungkin karena kedua jenis tumbuhan ini sama-sama memiliki bunga yang berukuran raksasa, dan keduanya sama-sama mengeluarkan bau yang tak enak. Jenis-jenis Amorphophallus juga dapat dijumpai pada hutan hujan tropis di Stasiun Penelitian Hutan Tropis (SPHT) Taman Nasional Kayan Mentarang di Lalut Birai, Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau. Tumbuhan ini hanya ada di Indonesia.

Pemerian

[sunting | sunting sumber]
Kibut di brosur Kebun Raya Bogor

Tumbuhan ini memiliki dua fase dalam kehidupannya yang muncul secara bergantian, fase vegetatif dan fase generatif. Pada fase vegetatif muncul daun dan batang semunya. Tingginya dapat mencapai 6 m. Setelah beberapa waktu (tahun), organ vegetatif ini layu dan umbinya dorman. Apabila cadangan makanan di umbi mencukupi dan lingkungan mendukung, bunga majemuknya akan muncul. Apabila cadangan makanan kurang tumbuh kembali daunnya.

Bunganya sangat besar dan tinggi, berbentuk seperti lingga (sebenarnya adalah tongkol atau spadix) yang dikelilingi oleh seludang bunga yang juga berukuran besar. Bunganya berumah satu dan protogini: bunga betina reseptif terlebih dahulu, lalu diikuti masaknya bunga jantan, sebagai mekanisme untuk mencegah penyerbukan sendiri. Hingga tahun 2005, rekor bunga tertinggi di penangkaran dipegang oleh Kebun Raya Bonn, Jerman yang menghasilkan bunga setinggi 2,74 meter pada tahun 2003. Pada tanggal 20 Oktober 2005, mekar bunga dengan ketinggian 2,91 meter di Kebun Botani dan Hewan Wilhelma, Stuttgart, juga di Jerman. Namun, Kebun Raya Cibodas, Indonesia mengklaim bahwa bunga yang mekar di sana mencapai ketinggian 3,17 meter pada dini hari tanggal 11 Maret 2004.[3] Bunga mekar untuk waktu sekitar seminggu,

Di kawasan SPHT Taman Nasional Kayan Mentarang, jenis kibut ini dapat tumbuh dengan tinggi kisaran 1,5 meter dengan lebar sekitar 50–70 cm. Banyak dijumpai di sekitar pinggir sungai dan daerah dataran lembap. Bunga ini mekar sekitar bulan November dan yang terakhir dijumpai pada tanggal 23 November 2013 (Misoniman/POLHUT TN Kayan Mentarang). Pada fase vegetatif, kibut ini muncul daun dan batang mencapai 2,5 meter dengan diameter sekitar 25 cm.

Pendahuluan

[sunting | sunting sumber]

Bunga bangkai dalam bahasa latin disebut Amorphophallus yang berasal dari bahasa Yunani Kuno “Amorphos” yang berarti “cacat, tanpa bentuk” dan “phallos” yang berarti “penis”.[4] Terdapat 170 jenis bunga bangkai di seluruh dunia dan sekitar 25 jenis di antaranya bisa ditemui di Indonesia yaitu delapan jenis di Sumatra, enam di Jawa, tiga di Kalimantan, dan satu di Sulawesi.[5]

Ciri-ciri

[sunting | sunting sumber]
  • Warna kelopak merah hati, jingga, dan kehijauan.[4]
  • Warna tongkol keunguan serta kuning.
  • Mengeluarkan bau busuk.
  • Tingginya bisa mencapai 5 meter dan berdiameter 1,5 meter, bagian yang menjulang tinggi ke atas atau yang disebut spadix. Bagian pelindung bunga yang mekar disebut braktea
  • Biji berwarna merah.
  • Masa mekarnya 7 hari.

Habitat

[sunting | sunting sumber]
  • Hutan hujan Sumatra (Kerinci, Lampung).[6]
  • Iklim tropis dan subtropis.
  • Tumbuh di bawah kanopi (undergrowth).
  • Ketinggian 120–365 mdpl.
  • Tanah berkapur.
  • Di hutan sekunder, ladang-ladang penduduk, pinggir sungai atau di tepi hutan.

Siklus hidup

[sunting | sunting sumber]

A. titanum memiliki tiga siklus hidup yang jelas, yaitu tahap vegetatif, dorman, dan generatif. Siklus vegetatif terutama untuk pertumbuhan umbi yang dapat mencapai bobot hingga 100 kg. Siklus ini dimulai pada awal musim hujan dengan dihasilkannya satu daun tunggal yang besar, dan berlangsung selama 6–12 bulan, dilanjutkan siklus dorman selama 1–4 tahun sebelum memasuki siklus pembungaan. Siklus pembungaan umumnya tidak teratur [7]

Perkembangbiakan

[sunting | sunting sumber]
  • Bunga bangkai (Amorphophallus) mengalami dua fase dalam hidupnya yang berlangsung secara bergantian dan terus menerus, yakni fase vegetatif dan fase generatif. Pada fase vegetatif di atas umbi bunga bangkai tumbuh batang tunggal dan daun yang mirip daun pepaya. Hingga kemudian batang dan daun menjadi layu menyisakan umbi di dalam tanah. Fase selanjutnya, generatif yakni munculnya bunga majemuk yang menggantikan batang dan daun yang layu tadi.[4]
  • Perkembangbiakan juga dibantu oleh burung rangkong, yang di mana akan memakan biji dari bunga bangkai dan akan dibuang melalui feses, namun makin berkurangnya populasi burung rangkong akibat perdagangan liar maka populasi bunga bangkai juga berkurang.

Keragaman genetik

[sunting | sunting sumber]

Keragaman genetik dideteksi dengan PCR menggunakan primer RAPD. Hasil menunjukkan bahwa diperoleh 143 fragmen DNA yang berukuran dari 100 bp hingga 1,1 Kb, di mana 137 (95,80%) di antaranya merupakan pita polimorfik dengan indeks marka yang tinggi. Rata-rata setiap primer menghasilkan 17,8 pita yang dapat dideteksi. Jumlah pita polimorfik tertinggi (23) terdapat pada primer OPU-07, sedangkan jumlah terendah (13) terdapat pada primer OPU-03.[6]

Ancaman

[sunting | sunting sumber]
  • Menurut IUCN termasuk dalam red list [8]
  • Populasi bunga bangkai liar sudah makin berkurang karena habitat alaminya banyak mengalami alih fungsi menjadi lahan pertanian, perkebunan, dan permukiman. Penyebab lainnya adalah masyarakat yang merasa terancam dengan bau busuk bunga ini, lalu memotong bunga dan daunnya.[9]

Konservasi

[sunting | sunting sumber]

Kultur In-vitro [12]

[sunting | sunting sumber]
  • Kultur jaringan bunga bangkai sudah pernah dilakukan pada tahun 1988 oleh Kohlenbach.[12]
  • Pada tahun 2011, Irawati dkk, melakukan kultur in-vitro kembali dan berhasil mendapatkan planlet dari eksplan urat daun A.titanium, dengan menggunakan medium Murashige dan Skoog (MS) dan perlakuan penyinaran 1000 lux, 16 jam per hari dengan suhu 28 °C. Biakan diamati setelah 6–8 minggu setelah penanaman.

Fakta unik

[sunting | sunting sumber]
  • Umbi pada bunga bangkai dapat digunakan sebagai bahan makanan, minuman, dan obat-obatan.[4]
  • Sebutir biji bunga bangkai membutuhkan waktu 20–40 tahun untuk berbunga.
  • Ketika mekar suhu bunga akan mencapai 50–60 oC dan mengeluarkan asap.

Baobab

Baobab atau ki tambleg adalah nama umum dari sebuah genus (Adansonia) yang terdiri dari delapan spesies pohon asli MadagaskarAfrika daratan dan Australia. Spesies Afrika daratan juga ada di Madagaskar, tetapi tidak asli negara itu. Nama umum lainnya adalah boab dan boaboa. Spesies ini mencapai tinggi antara 5–25 m. Mereka menyimpan air di dalam batang mereka, dengan kapasitas di atas 120.00 liter untuk bertahan dalam kondisi lingkungan sekitar mereka.[1]

Baobab di Indonesia

[sunting | sunting sumber]

Baobab diduga masuk ke Indonesia saat perdagangan laut melalui pedagang Timur Tengah.[2] Tumbuhan ini dikenal sebagai Asem Buto atau Ki Tambleg dan awalnya tidak dikenal fungsinya. Pada tahun 2010, sepuluh pohon di lahan perkebunan tebu PT PG Rajawali 2 di Subang ke Kampus Universitas Indonesia, Depok.[3] Namun salah satu pohon di depan perpustakaan sempat tumbang.[4] Pohon ini juga dirawat di Kebun Raya Bogor.[5]

Pada Bulan September 2013, Waduk Ria Rio mulai dibersihkan dan dibuat taman dengan salah satunya diisi dengan pohon Baobab di bagian selatan waduk.[6] 

Daftar spesies Baobab[7]

[sunting | sunting sumber]

Galeri gambar

[sunting | sunting sumber]

Welwitschia

Welwitschia - genus monotipe gymnospermae, yang hanya terdiri atas satu spesies yang sangat langka yaitu Welwitschia mirabilis. Tanaman ini secara umum sering disebut sebagai Welwitschia, dan memiliki beragam sebutan dalam bahasa lokal, misalnya kharos atau khurub dalam bahasa Namatweeblaarkanniedood dalam bahasa Afrikaansnyanka dalam bahasa Damara, dan onyanga dalam bahasa Herero. Tumbuhan ini juga merupakan satu-satunya genus dari Famili Welwitschiaceae dan ordo Welwitschiales, dalam divisi Gnetophyta. Sumber informal secara umum menyebutnya "fosil hidup".[2][3] Welwitschia mirabilis adalah tumbuhan Endemik dari Gurun Namib yang berada dalam wilayah Namibia dan Angola.

Klasifikasi ilmiah

[sunting | sunting sumber]
Buah betina, dari Curtis's Botanical Magazine (1863)

Nama Welwitschia berasal dari nama botanis dan doktor Austria, Friedrich Welwitsch, yang menemukan tanaman tersebut tahun 1859 di wilayah yang sekarang ini adalah Angola. Welwitsch merasa kebingungan oleh tanaman itu hingga ia, "tak dapat melakukan apa-apa, selain berlutut dan melihatnya, setengah takut jangan sampai menyentuhnya untuk membuktikan tanaman itu bagian dari khayalan."[4] Joseph Dalton Hooker dari Linnean Society of London menjelaskan spesies itu dengan menggunakan deskripsi Welwitsch dan materi yang dikumpulkan bersama dengan materi dari artis Thomas Baines yang secara terpisah menemukan tanaman itu di Namibia.[5][6] Welwitsch mengusulkan penyebutan genus itu Tumboa sesuai dengan yang ia yakini adalah nama yang digunakan oleh masyarakat setempat, "tumbo". Tetapi, Hooker malah meminta izin Welwitsch untuk menamakan genus itu Welwitschia. Welwitsch setuju dan menyediakan beberapa materi yang terawat baik yang mampu dimanfaatkan Hooker untuk membuat kemajuan substansial dalam menentukan afinitas botanisnya.